Dari tumpukan abu yang dulunya adalah batu meteor raksasa, debu-debu beterbangan memenuhi udara, menutupi pandangan semua orang di sekitarnya. Getaran kecil masih terasa di tanah, membuat suasana semakin tegang. Para prajurit Monrest hanya bisa berdiri mematung, tidak ada yang berani bergerak, bahkan Leluhur Monrest tampak terdiam sesaat, mencoba memahami apa yang terjadi.

Saat debu-debu itu perlahan menghilang, sebuah siluet terlihat di tengah sisa abu. Sosok seorang pria berdiri tegap, tubuhnya diam tidak bergerak, terlihat seperti orang yang sangat lemah. Begitu debu benar-benar menghilang, wajah pria itu terlihat jelas. Lynx.

Leena, yang terikat di tiang, menahan napas saat mengenali sosok itu. "Lynx..." bisiknya, air mata langsung mengalir di pipinya. Kebahagiaan bercampur rasa tidak percaya membuat tubuhnya gemetar.

"Lynx!" teriak Lala di cekungan, yang entah bagaimana dapat melihat bayangan samar di atas. Beberapa penduduk Surya mulai saling berbisik, merasa ada sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi.

"Lynx? Apakah kamu yakin itu kepala suku?" tanya seorang penduduk yang mendengar kata yang diucapkan Lala.

"Aku tidak tahu dengan pasti, tapi aku merasa yakin melihat sekilas itu Lynx." Jawab Lala dengan tubuh bergetar, jantungnya berdegub kencang, harapannya mulai timbul.

Para penduduk Surya yang mendengarnya merasa tubuh mereka bergejolak, semangat mereka bangkit kembali. Mereka semua berdiri dan memperhatikan dengan lebih seksama kejadian diatas cekungan.

Namun, di sisi pasukan Monrest, suasana berubah menjadi heboh. Para prajurit yang tadinya diam terpaku kini mulai bergemuruh, saling bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. "Itu dia! orang yang menghilang dan kita cari-cari dari tadi malam." teriak salah satu prajurit, menunjuk ke arah Lynx.

"Benar itu dia! Kita sudah mencarinya kesemua tempat, ternyata dia bersembunyi disana." teriak prajurit lainnya sambil menunjuk ke arah Lynx yang berdiri dengan mata terpejam.

"Bagaimana dia bisa di sana? Apa yang dia lakukan dengan batu meteor?" tanya prajurit lainnya, wajahnya penuh kebingungan. Keributan kecil mulai terjadi di barisan, tetapi tidak ada yang berani bergerak tanpa perintah dari Leluhur Monrest.

Leluhur Monrest, yang sebelumnya terpaku, akhirnya melangkah maju, matanya menyipit penuh kemarahan. "Tidak mungkin... bagaimana kau bisa ada di sana?!" serunya dengan suara yang menggema, penuh emosi. Ia melepaskan energinya dan mengarahkannya ke tubuh Lynx. Leluhur Monrest mencoba merasakan jejak energi di tubuh Lynx dengan kepekaannya.

Namun, kelegaan muncul di wajahnya saat dia menyadari sesuatu. "Tidak ada apa-apa ditubuh anak itu. Sedikit pun aku tidak ada merasakan adanya energi yang terasa dari tubuhnya. Tidak ada lagi getaran energi, tidak ada tanda-tanda kekuatan forging qi yang sebelumnya selalu ku rasakan dari pemuda itu. Dia hanya manusia biasa sekarang."

Leluhur Monrest awalnya mengkhawatirkan Lynx kembali pulih seperti sebelumnya dan memiliki kekuatan yang lebih tinggi karena batu meteor, namun setelah dia merasakan tidak ada sesuatu yang aneh, dia jadi kembali percaya diri.

"Benar-benar lemah..." Leluhur Monrest mencibir, mengamati Lynx dengan tatapan merendahkan. "Jadi ini alasanmu bersembunyi? Kau bahkan lebih tidak berguna dari sebelumnya. Dantianmu yang sudah kuhancurkan ternyata benar-benar membuatmu menjadi manusia lemah, kekuatanmu yang dulu seperti semut itu kini benar-benar lenyap. Seharusnya kamu sembunyi lebih baik agar tidak dapat aku temukan."

Namun, kemarahan kembali menguasai dirinya. Ritual yang direncanakan dengan begitu hati-hati telah gagal. Batu meteor yang menjadi pusat kekuatannya kini lenyap, dan penyebabnya adalah pemuda yang dianggapnya remeh. "Tapi kau telah menghancurkan rencana besar ini! Batu meteor itu seharusnya menjadi kunci keabadianku!" suaranya menggelegar, membuat prajurit-prajurit di sekitarnya semakin takut."Cepat katakan! Apa yang sudah kamu lakukan? Dan dimana kamu sembunyikan inti batu meteor."

Leluhur Monrest kembali menggunakan kepekaannya dengan mengalirkan energi ke tubuh Lynx untuk memeriksa tubuhnya dan disekitar perkampungan."Tidak ada, aku tidak menemukan apapun disekitar sini, dia juga tidak mungkin menyimpannya di cincin penyimpanan karena aku sudah mengambilnya," katanya sambil memandang cincin yang terpasang di jarinya.

Leena, yang melihat Lynx berdiri dengan tenang meski dihujani kata-kata hinaan, tidak bisa menahan air matanya. "Lynx... kau selamat..." katanya lirih, lalu menangis bahagia. Rasa lega memenuhi hatinya meskipun situasi di sekitarnya masih sangat berbahaya.

Sementara itu, di cekungan, penduduk Surya yang mendengar gemuruh suara Leluhur Monrest mulai kebingungan. "Apa yang sedang terjadi di atas sana?Apa benar ada kepala suku?" tanya salah satu penduduk.

"Suara itu... sepertinya Leluhur Monrest marah," ujar tetua Ayunga, mencoba menebak.

"Tapi kenapa dia marah? Bukankah ritualnya sudah dimulai? Lihat, batu meteor yang besar itu sudah tidak terlihat lagi." tanya Narendra, yang kini berdiri di tepi cekungan, matanya menatap ke langit yang kini terlihat lebih cerah tanpa keberadaan batu meteor.

"Ada sesuatu yang tidak wajar," gumam Rira, merasa bulu kuduknya berdiri. "Sepertinya terjadi sesuatu dengan batu meteor itu. Aku bisa merasakan bahwa ini bukan bagian dari rencana mereka."

Arkha, yang berdiri tak jauh dari mereka, mengangguk setuju. "Mungkin... mungkin yang dikatakan Lala benar. Mungkin itu memang kepala suku dan dia berhasil melakukan sesuatu. Tapi bagaimana? Dia bahkan tidak memiliki kekuatan lagi..."

Di atas, suasana semakin memanas. Leluhur Monrest melangkah maju dengan sorot mata penuh amarah, sementara Lynx hanya berdiri diam di tempatnya, tubuhnya tetap diam dan matanya tetap terpejam. "Aku tidak tahu bagaimana kau menghancurkan batu meteor itu," kata Leluhur Monrest, nadanya penuh kebencian, "tetapi aku akan memastikan kau membayar mahal untuk ini."

Namun, Lynx tetap diam, tidak berkata apa-apa. Matanya yang terpejam dengan wajah yang terlihat tetap tenang membuat suasana semakin tidak bisa ditebak. Para prajurit Monrest yang menyaksikan hanya bisa menunggu, menahan napas, mencoba memahami apa yang akan terjadi selanjutnya.

Agarth, pemimpin spiritual suku Monrest berdiri di sudut cekungan yang jauh dari keributan para prajurit Monrest. Wajahnya tegang, tangannya bergetar saat mencoba menenangkan pikirannya. Ramalan yang pernah ia lihat tadi malam kini berputar kembali dalam benaknya, mengaitkan semuanya dengan kejadian yang baru saja terjadi. Batu meteor yang hancur, sosok Lynx yang tiba-tiba muncul, dan kemarahan Leluhur Monrest, semua itu terasa seperti pertanda buruk.

"Kehancuran... itu semua ada dalam ramalan," pikir Agarth, tubuhnya gemetar. "Apakah ini awalnya? Jika batu meteor telah lenyap, maka rencana leluhur untuk menyerap kekuatan itu akan gagal. Tapi bagaimana dampaknya bagi kita semua?"

Tidak jauh dari sana, Damon berdiri dengan wajah gelisah. Meski berusaha menyembunyikannya, ia tidak bisa menutupi rasa khawatir yang membayangi pikirannya. Kekacauan yang terjadi telah mengguncang keyakinannya, meskipun ia tetap mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya masih terkendali."Apa yang terjadi sebenarnya, apakah rencanaku untuk memiliki kekuatan itu akan gagal?" batinnya.

"Agarth," panggil Damon dengan suara rendah. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud dari semua ini?"

Agarth mendekat, ragu-ragu untuk berbicara, tetapi akhirnya ia mengumpulkan keberanian. "Kepala Suku, aku sudah mengatakan sebelumnya. Aku melihat ramalan kehancuran. Ramalan itu tidak pernah salah... dan sekarang, lihatlah apa yang terjadi."

Damon menatap Agarth dengan ekspresi tajam. "Kehancuran apa yang kau maksud, Agarth? Jangan bicara berbelit-belit!"

Agarth menunduk, suaranya bergetar. "Batu meteor adalah kunci dari kekuatan kita. Jika batu itu lenyap sebelum ritual selesai, maka kekuatan yang kita harapkan tidak hanya akan hilang, tetapi juga membawa malapetaka bagi kita semua. Aku yakin... kehancuran yang kulihat dalam ramalan berasal dari sini. Ini adalah tanda bahwa rencana leluhur tidak akan berjalan seperti yang kita harapkan."

Damon mengerutkan kening, tampak berpikir keras. Namun, ia dengan cepat menggelengkan kepala, mencoba menyangkal kata-kata Agarth. "Ramalanmu hanyalah kebetulan, Agarth. Leluhur Monrest masih sangat kuat. Dia akan menemukan cara lain untuk melanjutkan ritual ini."

"Tapi kepala suku," lanjut Agarth, nadanya mendesak. "Bahkan Leluhur Monrest terlihat goyah. Batu meteor adalah pusat segalanya. Tanpa itu, tidak ada kekuatan yang bisa dia serap. Jika dia terus memaksakan rencana ini, aku takut kita semua akan terjebak dalam kehancuran yang lebih besar."

